Translate

Ad

Friday, June 26, 2020

Abstrak Jurnal Penelitian: PEMETAAN KESESUAIAN LAHAN TANAMAN PANGAN PADI DI KABUPATEN BANGKALAN DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


PEMETAAN KESESUAIAN LAHAN TANAMAN PANGAN PADI DI KABUPATEN BANGKALAN DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


Firman Farid Muhsoni, S.Pi, M.Sc dan Dr. Ir. Eko Murniyanto, MP
Penelitian ini dibiayai oleh Direktorat Penelitiandan Pengabdian kepada Masyarakat DIKTI dalam program Penelitian Hibah Bersaing (PHB)

 

ABSTRAK

Menekan laju alih fungs i ahan dan mewujudkan ketahanan pangan di suatu wilayah perlu segera dilakukan. UU No 41 Tahun 2009, PP No 1 Tahun 2011 dan 41/Permentan/OT.140/9/2009 mendesak dilakukan dengan mewujudkan lahan pertanian berkelanjutan. Tujuan penelitian ini memetakan kesesuaian lahan untuk tanaman pangan padi.  Metode yang dipergunakan melalui pendekatan pemodelan Sistem Informasi Geografis.

 Hasil  yang telah didapatkan untuk penggunaan lahan untuk lahan produktif sawah mencapai 34.676,6 Ha (26,58%),  Kondisi  topografi sebagian besar datar mencapai 90,3% dari wilayah Bangkalan,  Jenis tanah dominan adalah jenis Mediteran Rodik mencapai 37%. Kesesuaian lahan untuk tanaman pangan padi lahan sangat sesuai mencapai  22.074 Ha (16,9%), lahan yang sesuai16.352 Ha (12,5%), lahan kurang sesuai 30.085 Ha (23,1%) dan lahan tidak sesuai 61.952 (47,5%).

Kata kunci: Pemetaan, kesesuaianlahan, SIG

Lihat Full Paper


To push the rate of land conversion down and to achieve food security should be immediately done.  Law No. 41 of 2009, government regulations No. 1 of 2011 and 41/Permentan/OT.140/9/2009 demanding to create a sustainable agricultural land.  The purpose of this research is to map the suitability of land for rice crops.  The study uses method of the Geographic Information System modeling approach.  The study obtains some results as follows: the use of land for productive land rice reached 34676.6 ha (26.58%), mainly the topography condition (flat) reside in Bangkalan (90.3%), the type of soil is dominated by Mediterranean Rodik (16.9%), 16 352 ha  (12.5%) of land is suitable, 30 085 ha (23.1%) of land is less suitable  and inappropriate land is 61.952 ha (47, 5%).       

Keywords: mapping, land suitability, GIS
 

Abstrak Jurnal Penelitian: Teknologi Inovatif Untuk Pengembangan Pangan Berbasis Pada SDA Lokal (Local Wisdom)


Teknologi Inovatif Untuk Pengembangan Pangan Berbasis Pada SDA Lokal (Local Wisdom)
Rindit Pambayun
Guru Besar Ilmu Pangan Universitas Sriwijaya, Ketua Umum PATPI
Jurusan Teknologi Pertanian, FP-UNSRI, Jl. Raya Palembang-Prabumulih Km 32. Inderalaya Ogan Ilir, Tel./Fax. +62(711)580664/ +62(711)320310. rpambayun@yahoo.com

Ringkasan
Indonesia kaya dengan sumber daya alam lokal yang bisa dikembangkan sebagai penunjang ketahanan pangan nasional. Jika dikembangkan, SDA tidak hanya mencukupi kebutuhan pangan sendiri, tetapi juga dapat menjadi produk pangan yang bisa diekspor. Contoh sumber daya alam lokal yang masih bisa dikembangkan adalah umbi-umbian, serealia, dan jenis produk dari tanaman lain. Umbi-umbian, seperti ubi kayu, ubi talas, ubi gadung, dan ubi lainnya masih memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk pangan yang menjanjikan yang memenuhi syarat-syarat aman, bergizi, palatable, dan menyehatkan. Hanya saja, beberapa umbi-umbian kadang memiliki prekursor racun yang harus diperhatikan. Contohnya, ubi kayu memiliki linamarin dan lotaustralin, ubi talas memiliki asam dan garam oksalat, dan ubi gadung memiliki dioskorin dan diosgenin dengan konsentrasi berbeda-beda.

Prekursor itu dapat berubah menjadi senyawa toksikan seperti terbentuknya sianida selama proses pengolahan. Konsentrasi residu toksikan sangat bervariatif tergantung pada cara pengolahannya. Keripik gadung tradisional misalnya, memiliki residu toksikan mulai dari 17 sampai 200 ppm. Tetapi, dengan teknologi KISS, residu tersebut dapat diturunkan di bawah 1,00 ppm dengan karakteristik lain jauh lebih baik. Pada konsentrasi 17 ppm misalnya, toksikan tidak menunjukkan gejala keracunan jika dikonsumsi, karena nilai ambang batas keracunan adalah 0,6 ppm/ kg berat badan. Namun demikian, serendah apapun toksikan HCN masuk dalam tubuh, tubuh akan mendetoksifikasi dengan sulfur yang berasal dari asam amino metionin dan sistein hingga terbentuk HCNS- (ion thiosianat). Ion thiosianat akan menghalang-halangi kelenjar tiroid menyerap Iodium. Akibatnya tubuh bisa mengalami deplesi protein, menderita KKP, dan kritin endemik. Itu adalah contoh kecil, dari aplikasi teknologi diperoleh pangan dengan tingkat keamanan dan kualitas berbeda. Tidak bisa ditawar lagi, produk pangan dari SDA lokal harus memiliki sifat aman, bergizi, palatable, dan menyehatkan. Oleh sebab itu, kunci pengembangan produk pangan dari SDA lokal untuk menunjang ketahanan pangan nasional adalah dengan teknologi inovatif yang memadai.

Keywords: Teknologi inovatif,  pangan lokal

Abstrak Jurnal Penelitian PENINGKATAN PERSEPSI PANGAN ALTERNATIF BERBASIS KOMODITAS LOKAL UNTUK MENUNJANG KETAHANAN PANGAN


Peningkatan persepsi pangan alternatif berbasis komoditas lokal untuk menunjang ketahanan pangan

 KIKI FIBRIANTO, STP.MPhil. PhD
Abstrak

Diversifikasi pangan merupakan salah satu alternatif cara yang bisa ditempuh untuk mewujudkan ketahanan pangan. Sesuai dengan PP nomor 68 tahun 2002, diversifikasi pangan didefinisikan sebagai upaya untuk meningkatkan konsumsi pangan yang beraneka ragam dengan tetap mengedepankan prinsip gizi seimbang. Penganekaragaman konsumsi pangan ini bertujuan untuk mengurangi konsentrasi konsumen terhadap satu macam produk pangan sehingga tidak hanya mengurangi beban produksi komoditas pangan tertentu, tetapi juga akan mampu mendorong terjadinya pasar baru terhadap komoditas pangan alternatif. 

Indonesia sebagai bangsa yang sebagian besar masyarakatnya sangat tergantung pada beras sebagai makanan pokok sumber karbohidrat. Seiring dengan kenaikan jumlah populasi penduduk sekitar 1.5% per tahun dalam dua dekade terakhir, kebutuhan akan konsumsi beraspun meningkat. Meskipun secara nasional produksi beras meningkat dari 52 juta ton menjadi 71 juta ton dalam satu dekade terakhir, Indonesia masih melakukan impor beras sebesar 1.8 juta ton sepanjang tahun 2012. 

Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan ketersediaan bahan pangan, terutama bahan pangan pokok perlu dilakukan diversifikasi pangan yang continue dan sustainable. Hal ini perlu dilakukan tidak hanya untuk mengurangi beban impor negara akan tetapi juga memberikan manfaat kesehatan bagi masyarakat. Masyarakat perlu disadarkan bahwa konsumsi pangan non-beras dapat membantu penurunan prevalensi diabetes. Beras memiliki glycemic index (GI) diatas 85% sedangkan jagung dan umbi-umbian memiliki GI dibawah 60%. Oleh karena itu konsumsi pangan non-beras dapat membantu mencegah diabetes atau paling tidak menurunkan prevalensi diabetes. Meskipun demikian, bukan berarti konsumsi beras harus ditiadakan. Mengingat masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan nasi sebagai makanan pokok, yang paling mungkin dilakukan adalah dengan mengkombinasi menu yang memungkinkan untuk mengkonsumsi bahan pangan substitusi. Di sini yang perlu ditekankan adalah pentingnya “food combining” dan “food diversification”untuk tidak hanya menurunkan beban impor beras, tetapi juga menurunkan angka prevalensi diabetes Indonesia. 

Meskipun kombinasi dan diversifikasi pangan merupakan langkah yang bisa diambil untuk menjaga ketersediaan beras nasional, secara praktis masyarakat Indonesia masih sangat sulit meninggalkan kebiasan mengkonsumsi beras. Seiring dengan meningkatnya status pendidikan masyarakat secara umum, perlu dikampanyekan tentang pentingnya kombinasi dan diversifikasi pangan. Telah banyak penelitian untuk menciptakan “rice substitute” atau “artificial rice”, akan tetapi penerimaan pasar masih belum bisa optimal. Hal ini selain disebabkan oleh faktor harga yang umumnya lebih mahal dari beras asli, secara organoleptik beras tiruan dari sumber karbohidrat alternatif tidak sama dengan dengan beras asli. Oleh karenanya ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal ini. Salah satunya adalah dengan melakukan optimasi proses produksi beras tiruan baik untuk formulasi, aplikasi teknologi proses serta kualitas sensorisnya. Penting untuk diapresiasi bahwa perbedaan atribut sensoris dari sumber karbohidrat non-beras merupaka potensi untuk terus digali dan dikembangkan untuk meningkatkan variasi serta pilihan konsumsi bahan pangan pokok.